Minggu, 27 Mei 2012

Dear Jodohku: Aku Sedang Tersenyum Ketika Menulis Ini

Jodohku, apa kabarmu?

Aku tersenyum geli ketika sedang menulis ini. Kau tahu? Aku bahkan tidak tahu pendekatan macam apa yang sedang aku lakukan. Aku memikirkanmu, itu terlalu banyak. Lalu  secara tidak sengaja kau tersebut dalam doaku. Begitu saja.. dan Aku tidak tahu lagi kemana harus menuangkan semuanya, selain disini.


Kau, apakah dahulu sudah punya rencana menikahi gadis sepertiku? Apa sudah benar-benar matang? Aku punya keinginan untuk memakai gaun berwarna broken white, ya dan Aku juga berencana memakai sepatu Flat untukmu ketika ke depan altar. Aku sedang berusaha untuk tidak gugup, hey ini gila.. Aku baru memikirkannya dan Aku gugup!


Aku terlalu banyak mengundangmu dalam alam khayalku. Aku banyak menggunakan waktu untuk, memikirkan rupamu. Apakah akan jadi sebuah pernyataan konyol kalau Aku mengatakan senyummu mampu memberi energi untuk hari-hariku? Tapi itu terjadi. Percayalah...

Nink Telaumbanua

Jumat, 25 Mei 2012

My Super Mom, My Super Hero


Mama, adalah satu dari sejumlah alasan saya untuk bertahan hidup. Puji Tuhan, di umur yang sudah sampai seperti ini, saya masih bisa merasakan kasih sayang Mama. Di saat beberapa teman saya sudah kehilangan sosok Ibu, saya masih diberikan kesempatan untuk bisa bersama-sama dengan Mama.

Mama, orangnya cantik. Dia punya bentuk tubuh yang tidak pendek-pendek amat. Wajahnya tirus, hidungnya kecil, dan punya kulit yang putih. Secara keseluruhan, Mama cantik. Apalagi di usianya yang sudah menginjak hampir setengah abad,  Mama tidak mengalami obesitas seperti layaknya Ibu-ibu yang lain. Mama, punya tulang punggung yang tegap, ukuran kaki panjang, dan uniknya, bentuk kuku-kuku di jari-jari Mama berbentuk kotak, saya pernah perhatikan hanya beberapa orang saja yang mempunyai bentuk kuku kotak-kotak (umumnya bulat atau lonjong) dan  ini jelas diturunkan dari Kakek, Ayahnya Mama. Kakek orangnya tinggi, matanya sendu tapi sipit, wajahnya tirus, punya garis rahang yang sangat jelas, dan ukuran kakinya mungkin 43. Dan ya, ciri-ciri fisik ini jelas banyak diturunkan kepada kami, cucu-cucunya. Saya dan saudara-saudara saya (semuanya cowok) mempunyai tinggi yang lebih dibanding ukuran rata-rata suku Nias pada umumnya. Saya 164cm, brothers semuanya diatas 175cm, kaki panjang, dan tulang punggung yang panjang juga. Copian wajah Kakek sangat jelas terlihat pada adikku, namanya Bimbo. Dia banyak mendapat jatah kemiripan dari Kakek. 

Dibanding adik saya, saya mendapat sedikit sekali bagian ciri-ciri Mama yang diturunkan. Saya malah punya wajah bulat, pipi tembem, alis yang melengkung, dan bibir yang jauh lebih tipis dari Mama. Saya lebih mirip Bapak saya. Bapak punya wajah bulat, alis melengkung, dahi lebar karena rambut bagian atas sedikit sekali yang tumbuh, dan punya lesung pipi, 2 disebelah kanan dan 1 disebelah kiri. Sama seperti saya, saya mendapat jatah itu juga. Beruntungnya, saya mewarisi kulit Mama yang putih langsat dan kuku kotak-kotak uniknya.
Selain ciri-ciri fisik tersebut diatas, Mama adalah sosok yang sangat mempedulikan penampilan. Mama fashionable, ya itulah. Mama memang terlihat dan mau terlihat berbeda. Selain itu, ciri khas yang sangat kentara dari Mama adalah KEKUATANNYA. Mama sangat kuat, itu benar. Mama bisa melakukan semua pekerjaan. Bahkan yang kita pikirkan seyogyanya dilakukan oleh laki-laki. Saya kadang heran, dari mana Mama mendapat kekuatan super seperti itu. Memasak, mencuci, mengurus Bapak dan Anna, mengurus rumah dan Nenek yang sudah renta, kemudian memberi makan ternak, lanjut dengan mengurus kebun. Saking kuatnya, Mama masih bisa mengangkat galon air. Hal yang sampai sekarang tak pernah bisa aku lakukan. Saya pernah bertanya, “Mama kok bisa sekuat itu?” Dengan entengnya Mama menjawab “sudah biasa, dari kecil terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan berat”

Mama memang belum menamatkan SD. Tapi beliau jago menghitung dan ....membaca situasi. Karena belum tamat SD, Mama sering sekali rendah diri. Pernah pada saat saya wisuda, rendah dirinya Mama meningkat 300%. Sampai-sampai tidak mau ikut acaranya. Katanya “ Mama malu, mungkin cuma Mama yang tidak punya pendidikan layak, Mama pasti malu”. Akhirnya setelah diyakinkan, Mama akhirnya setuju. Dan menurut pengakuannya, Mama yang malah gemetaran pas namaku disebut sebagai wisudawan dan juga sebagai wisudawan berprestasi. Katanya, rasanya jantungnya mau meleleh. 

Selain itu, Mama mungkin adalah orangtua yang selalu KUATIR. Mama suka sekali kuatir. Bahkan menurutku, kuatirnya Mama sudah masuk taraf lebay. Mama kuatir pada hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya, Mama kuatir pada saat hujan, rumah akan rubuh. Pada saat petir bersahut-sahutan Mama takut televisi meledak, lantai retak, atap terbagi dua. Pada saat handphonenya hang, Mama takut sudah rusak total, atau ketika FPI melakukan aksi anarkisnya, Mama menelpon berkali-kali hanya untuk memastikan anak-anaknya baik-baik saja. Padahal aksi anarkis bukan di daerah Medan. Mama juga takut sekali ditinggalkan, oleh karena itu beliau sering mengucapkan kalimat-kalimat misalnya “ nanti kalo kalian sudah tamat, udah kerja, udah kaya, pasti ga ingat Mama kan? Nanti Mama kalo udah tua pasti diusir dari rumah, iya kan??” Ada-ada saja..
Di samping itu, Mama juga kuatir sekali tentang anak-anaknya. Pada saat saya harus opname di RS karena penyakit maag, Mama yang nangis-nangis. Ketika saya mau sidang skripsi, Mama minta saya didoakan sama satu kampung, ketika mendengar kabar berat badan Adikku Bimbo turun, Mama mengusahakan segenap tenaga dan pikiran untuk mengirimkan telur ayam kampung, uang, dan segala sesuatu yang bisa dimakan ke Medan. Luar biasa..

Meskipun begitu, saya sangat menyayangi Mama. Mama mampu menyeimbangi Bapak yang cenderung pendiam. Dan demi anak-anaknya, Mama rela melakukan apapun untuk mengumpulkan uang, menyimpan, dan sesekali mengirim diam-diam kalau anaknya korupsi sejumlah uang dengan sengaja. Mama bukan tipe yang mau memanjakan anak-anaknya, tapi beliau selalu melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk anak-anaknya. Karena itulah, saya juga mempunyai keinginan yang sama pada akhirnya. Ingin menjadi yang terbaik juga untuk Mama kelak. 



Nink Telaumbanua

Kamis, 24 Mei 2012

Dear Jodohku : Saya Menulis Ini dengan Hati

Hai, jodohku.

Aku tahu kamu ada, dimana pun kau berada sekarang. Yang jelas aku tahu kau ada. Perkenalkan, Ini Aku, Tulang Rusukmu yang hilang. Apa kabarmu? Apakah semua berjalan dengan baik hingga saat ini?

Aku menulis ini, semuanya . Untukmu, Kau tahu itukan?.. Benar ini mungkin sebuah surat tanpa pengirim tanpa penerima yang paling gila yang pernah kau baca. Anggap saja, ini surat dari alam mimpi. Ya, memang benar. Sudah lama aku memimpikanmu, lama sekali. Kau adalah objek tanpa nama, dan aku juga tidak pernah melihat rupamu sesungguhnya. Kau juga bukan?

Tapi, aku yakin kau tampan. Kau pasti punya mata yang menenangkan, dan bahumu juga, itu pasti cukup untukku. Aku tahu itu. Badanmu pasti tegap dan kulitmu juga halus, yah seluruhnya kau adalah indah. Aku pikir, suaramu akan mampu membuatku hormat.

Apakah kau tahu, semesta telah mempersiapkan semuanya ini? Kau dan Aku. Tidak pernah menyangka bukan? Aku juga. Semesta yang membuatku kita bertemu, semesta yang membuat aku terpaut, dan semesta juga yang membuat akhirnya kau akan menikahiku. Aku mengimani itu. Ini jawaban doaku. Kau, pernah berdoa semacam itu?

Aku akan melanjutkan surat ini kemudian hari..
Tetap jaga dirimu baik-baik. :)

(Ini adalah tulisan lama yang tersimpan di draft,  entah kenapa dulu ga dipublish..  Skrg aku sudah menikah dan sedang hamil.  Baca tulisan ini jadi kayak jatuh cinta lagi) 
Nink Telaumbanua


Jumat, 13 April 2012

Kehidupan Pra Sejahtera setelah Wisuda (Aku masih pengangguran)

Saya masih ingat, sorak sorai kemerdekaan membahana memenuhi seluuh ruang wisuda saat itu. Manusia-manusia berjubah bertopi kebanggaan bergembira ria. Ini baru hidup, hidup yang pantas dirayakan. Ini saatnya. Pantas saja setelah berbulan-bulan memenuhi tuntutan kehidupan keras mahasiswa. Harus menyelesaikan pekerjaan-perkerjaan yang kadang-kadang tidak masuk akal banyaknya, melewati proses uji mental terhadap dosen pembimbing, bergelut dengan buku, berkorban terhadap waktu tidur daaannnnnnn kekurangan uang. Itu pasti.

Kita semua tahu. Bahwa, memang tidak semua orang diberi kesempatan yang sama. Terlepas bahwa seseorang mempunyai jalan keberuntungannya masing-masing. Dan itu terbukti, ketika kita terlepas dari tetek bengek mahasiswa dan masuk kedalam dunia yang sesungguhnya. Dunia yang nyata yang tidak  perlu banyak berpikir menguras otak ketika menghadapai soal-soal mata kuliah yang berkeliaran diantara otak kiri dan kanan. ketika kita tidak boleh terlalu berharap terhadap pena dan laptop, dan bersukacita ketika wifi sedang kencang-kencangnya. Kita kembali untuk membuktikan bahwa kita manusia, BUKAN mahasiswa. Lalu..........

Dunia seringkali tidak berpihak. Terutama waktu. Seidealis apapun, sekeras apapun, toh juga jika tidak beruntung atau anggap saja belum waktunya kita adalah penganggur sejati. Memangnya kenapa? Bukan malunya. Tapi saya benar-benar butuh uang. Uang untuk memenuhi hidup saya yang akhirnya dianggap MANUSIA.
Lalu, ya saya memang sudah berusaha.
Tapi saya masih pengangguran. 

Nink Telaumbanua

Minggu, 16 Oktober 2011

Tentang Angin, Secepat Dia Datang, Secepat Dia Pergi

Ada kalanya, kita dihadapkan pada suatu kondisi kegerahan luar biasa. Terdefenisikan dalam sebuah kejenuhan jangka panjang yang terus menerus menggelayut menemani hari-hari yang tidak bisa kita sebut menyenangkan. Tidak salah. Manusiawi.

Lalu kadang sepi datang. Luar biasa dinginnya. Kamu akan berada dalam ruang paling beku. Bukan diluar. Tapi dihatimu.

dan lihatlah..
Angin datang. Segar. Menyapamu dengan lembut.
Ketika dingin datang dengan tentara kebosanan. Datang angin yang membawa sejenak kehangatan. Lalu kita terbuai.............

Tidak lama. Bahkan tanpa Engkau ketahui. Dia akan segera pergi. Dia bisa pergi kapan saja. Dalam tidurmu, dalam mimpimu, dalam khayalanmu paling konyol. Tanpa pamit, tanpa melambai. Hilang.
Begitulah dia, Sang Angin.

Lepaskan saja. Biarkan saja. Akan ada waktunya kebosanan akan bosan padamu. Akan ada waktunya musim yang menghangatkan bagian hatimu. dan lihatlah.. Engkau memang benar-benar tidak memerlukan angin sekarang.

Untuk yang selalu menghangatkanku. Terimakasih.


Nink Telaumbanua

Minggu, 04 September 2011

Foto Masyarakat Nias Masa Lampau: Aktifitas Masyarakat


Berburu

Menarik Batu besar dari sungai

Aktifitas Perdagangan

Gereja Pertama Gunungsitoli di Hilina'a

Gereja BNKP Gunungsitoli 1

Latihan Pertempuran
Sumber : Tropenmuseum royal

Sabtu, 03 September 2011

Film India Pada Malam Sabtu Yang Membosankan

Malam ini adalah malam membosankan. Tidak keluar rumah sama sekali dan tidak melakukan apa-apa. Rasanya mau mengakhiri semuanya. Tiba-tiba terpikir untuk nonton tv, lumayan daripada "membeku". Ada film India di salah satu chanel tv, awalnya tidak tertarik. Tapi justru karena ada yang menyanyi dan menari, jadi tertarik. Alasannya saya merasa terhibur. Dan... akhirnya saya mengikuti alur ceritanya.


Cerita film ini memang cukup dramatis.  Seorang suami yang bertemu kembali dengan wanita dimasa lalunya. Masalah menjadi rumit ketika wanita tersebut berusaha menggoda dan menuduhnya telah memperkosanya.Keadaan makin parah ketika barang bukti dicuri dan pengacara sang suami dicelakai.  Lalu tampilah sang istri yang membela suami dihadapan pengadilan. Sang istri yang cerdas berusaha mengumpulkan semua bukti dan berhasil memenangkan pengadilan untuk suaminya.


Pelajaran luar biasa telah saya dapatkan dari film yang tidak sengaja saya tonton itu. Terutama bagaimana seorang wanita mempunyai BATAS dan bagaimana menjadi ISTRI yang seharusnya. Batas dalam maksud moral dan menjadi istri yang lebih dari sekedar luar biasa. Menjadi istri tidak hanya berkecimpung tentang urusan dapur dan tetek bengeknya tetapi tentang kesiapan dalam menghadapi apapun termasuk situasi yang paling tidak diinginkannya dalam hidup. Bagaimana membangun mental, kepercayaan, menerima dan mencintai suami apa adanya lengkap dengan masa lalunya yang kacau serta membela suami dengan strategi ala wanita seutuhnya. Alhasil, dia berhasil memenangkan semuanya.

Istri baik yang membela suaminya akan  menjauhkan suaminya dari Dewa Maut sekalipun...



Nink Telaumbanua